Heiho dan Kabei


Tidak usah bingung melihat dua orang tua di atas, tidak usah pula heran melihat tampang-tampang mereka yang terlihat sangat keriput karena memang mereka sudah mengenyam hidup dari zaman penjajahan Belanda, digantikan Jepang dan sekarang mereka sudah merasakan kemerdekaan… 🙂

Lebih jelasnya mereka berdua dalah Rumasih dan Wati, kakek dan nenek saya :yes: ayah dan ibu dari Bapak saya tepatnya. Kemarin sebelum melaksanakan Ibadah puasa kami sekeluarga meluangkan waktu untuk pulang kampung selama 1 hari ke rumah kakek dan nenek di dusun Pejaring, desa Dasan Buwuh, kecamatan Sakra, kabupaten Lombok Timur (kira-kira 70km dari kota mataram). Sekedar bersilaturahmi, karena memang kesempatan untuk pulang kampung hanya bisa di moment moment tertentu seperti lebaran.

Kesempatan ini saya manfaatkan untuk lumayan banyak berbincang dengan mereka berdua, ternyata pada hari itu untuk pertama kalinya saya mengetahui dengan pasti ternyata kakek saya dulunya termasuk pasukan HEIHO di zaman penjajahan jepang … 😀 pantas saja, dulu sewaktu kecil teman-teman seangkatan kakek kalau bersalaman dengan saya, selalu berkata begini “oohh ne wai Otakuma” artinya oohh ini cucu si Otakuma, padahal nama kakek saya kan Rumasih, tapi mereka menyebutnya dengan nama Otakuma pemberian jepang dulu, artinya pun saya tidak tau… :p :p :p

Di masa penjajahan Belanda sebelumnya, kakek pernah juga mengenyam pendidikan dasar selama 3 tahun katanya pada tahun 1935 sudah selesai mungkin di usia 12 tahun kakek tidak tahu pasti (namanya orang jadul, tidak tahu kapan mereka lahir :lol:), tapi nenek tidak pernah bersekolah, makanya nenek tidak bisa baca dan tulis sampai sekarang tapi mengerti bahasa Indonesia. Sedangkan kakek tentunya bisa baca tulis, bisa berbahasa Indonesia dengan baik tapi tidak ada sedikitpun bahasa Belanda ataupun bahasa Jepang yang melekat di ingatannya 😆 😆 😆

Kakek dan nenek adalah teman semasa kecil, usia mereka mungkin tepaut 5 tahun… nenek sering melihat kakek bersekolah dan latihan baris berbaris, entah tahun berapa mereka dinikahkan oleh orang tua mereka… 😮 dalam usia yang sangat muda dan masih terbilang pengantin baru, kakek ditarik oleh pemerintahan Jepang kala itu untuk masuk menjadi pasukan Heiho. Menurut catatan sejarah tentara jepang masuk ke Lombok pada 9 Mei 1942 dan perekutan dimulai untuk mempersiapkan tenaga pemuda Indonesia untuk berperang. Pelatihannya dilakukan setiap hari selama 1 tahun, mereka harus menghormat pada bendera Jepang dan matahari dengan cara membungkuk cara japang, mengenakan pakaian yang terbuat dari karung goni, bertelanjang kaki sambil memegang bambu runcing yang di rebahkan di pundak kiri… untungnya kakek tidak pernah di kirim berperang membela Jepang untuk perang Asia Pasific kala itu… tidak tau apa sebabnya, mungkin tidak memenuhi syarat untuk berperang 😆 Kata kakek Heiho itu seperti Hansip.

Saya perkirakan kakek saya lahir pada tahun 1925 an, seperti mantan-mantan Heiho yang masih hidup di Indonesia sampai sekarang ini. Berarti samapi tahun 2009 ini kira-kira kakek sudah berusia 84 tahun. Di usianya yang sangat senja itu, dia boleh saya katakan masih sangat sehat, kecuali penyakit kataraknya yang masih mengganggu. Tidak pikun dan sangat kuat bejalan kaki, Kakek masih sering pergi sendiri ke Mataram dari Lombok Timur menggunakan Bus, menyebrang ke Bima dan Dompu di Pulau Sumbawa menemui sahabat-sahabatnya dan berjualan di sana just by himself :up:. Kakek tidak pernah mau merepotkan semua anak-anaknya apalagi sudah berumah tangga semua. Benar-benar orang tua yang sangat mandiri dan pekerja keras, dia sangat rileks tapi tegas dalam menjalani setiap hari dalam hidupnya, banyak bertindak dari pada bicara, berbeda dengan nenek yang lebih cerewet. 😆 😆 😆 (namanya juga perempuan)

sebagai contoh: kakek dan nenek punya 6 anak, terdiri dari 4 laki-laki dan 2 perempuan. Dia menargetkan semua anak-anaknya harus Lulus sekolah sampai SMA, kalau ada yang tidak naik kelas jangan harap dibiayakan bersekolah lagi, anak bungsu laki-lakinya bernama Amat sempat tidak naik kelas sewaktu SD, benar saja seperti yang dikatakannya, sejak itu Kakek berhenti membiayakannya sekolah, tapi semua kakak-kakaknya termasuk Bapak saya pastinya tidak mau melihat saudaranya putus sekolah, maka merekalah yang membiayainya sekolah sampai SMA. Setelah kejadian itu terang saja Paman mulai rajin belajar 😀

seperti itulah gambaran kehidupan mantan Heiho di masa kemerdekaan sekarang yang masih hidup dan langsung saya saksikan sendiri… 🙂 Kabei sendiri hanya istilah yang saya ambil dari bahasa jepang artinya “Ibu kami” untuk menggambarkan nenek yang menjadi Ibu bagi 6 anaknya. Nenek selama hidupnya sampai sekarang berprofesi sebagai Dukun untuk persalinan (dukun beranak lah…) 😀 tapi bukan sembarang dukun, dia punya sertifikat resmi dari pemerintahan Soeharto untuk membantu persalinan di desa, jadi bukan sembarang dukun beranak…. zaman dulu Nenek membantu para Bidan desa untuk bersosialisasi, karena zaman dulu kan Bidan dan Dokter masih jarang di terima warga, mereka lebih percaya Dukun… :yes:

Nah…. Kira-kira begitu deh sepasang Heiho dan Kabei di gambar atas… sampai sekarang mereka sudah mempunyai 21 Cucu dan 7 Cicit. Kami para cucu mereka, merasa nyaman-nyaman saja kalau pulang kampung menemui mereka, karena tidak ada suasana yang Formal, malah terasa sangat bebas dan santai. di kalangan para cucu Kakek punya sebutan Bob Marley karena kurus jangkung dan Nenek Britney Spears karena perutnya selalu kelihatan kalau berpakaian, entah sejak kapan kami menganggp mereka begitu …. 😆 😆 😆 itu hanya guyonan, dan mereka sama skali tidak tersinggung dan tidak tahu siapa tokoh-tokoh itu… 😀

NB: yang di tengah adik saya Budi member Opera Community juga

Advertisements

62 thoughts on “Heiho dan Kabei

  1. maria2309 says:

    perubahan apa om?? gk ada sama sekali tuh…sekarang yang lagi berubah itu, tanaman ketapang banyak yang gugurin daunnya, pohon sengon dan tengguni udah banyak keluarkan bunga2nya, tinggal tungguin pohon johor and flamboyan mekar bunganya, baru deh musim hujan turun… 😉

    Like

  2. maria2309 says:

    ini tak kasikan hidangan berbuka1. pelecing kangkung2. minumannya Jus jeruk3. pencuci m ulutnya buah-buahan segar dan kaya serat4. jangan lupa menu utamanya ayam bakar si cocol sambal :yes: yummy*jadi ngiler* :faint:

    Like

  3. robertnasution says:

    Wuihh… enaknya :yes: trima kasih bu maria, jadi ga bisa bangkit nih, perlu tandu tuk tarawih ke mesjid 😀 besok buka sini lagi ya, boleh ya 🙂

    Like

  4. robertnasution says:

    ga da duit, aq lom dapat thr bu maria, sbg gantina, aq masakin masakan daerahku buat sahur bu maria sayur daun ubi tumbuk asam padeh baung sambal terasi syrup marquisa maaf bu maria ga pake nasi, saolna ga punya sawah sih 😀

    Like

  5. robertnasution says:

    beli piring n gelasna masing 1 aja, nonton tv, mandi di rumah tetangga, kan lumayan irit listrik dan pam. met menempuh hidup hemat dweh….. 😀

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s