Anak Kampung ke Luar Negeri – Malaysia

KL10hahahaha, anak kampung ada kemajuan sekarang nyoba menggembel sendirian ke Malaysia untuk pertama kalinya, motif utama “untuk dapat stempel imigrasi” passport ku sudah setahun dibuat, dan baru kemarin tanggal 26 dan 27 Oktober 2013 akhirnyaaaaa bisa beneran di bawa, walaupun cuman ke negara tetangga :yes: untuk pemulaan sebelum nanti coba ke negara-negara yang lebih jauh 😉

Okeh, orang Indonesia pasti udah banyak yang sering ke Malaysia, tapi ini hal baru bagi saya jadi Special bangeeetttt, karena baru pertama kalinya ke luar negeri *norak mode on* 😆 perjalanan saya kemarin walaupun singkat dan sendirian tapi sangat menyenangkan, banyak kejadian lucu sekaligus memalukan, tapi itu pengalaman baru, pokoknya noraknya anak kampung keluar semua 😆

pesawat yang saya gunakan dari Bandara Internasional Lombok (BIL) adalah AirAsia yang dari bulan Mei sudah saya pesan bersama teman dari website AirAsia, tapi karena ada urusan keluarga jadinya teman ku batal berangkat, alhasil saya sendirian yang berangkat. Untuk informasi, harga tiket AirAsia pulang pergi dapat Rp. 700.000,- (harga promo). Dari 2 minggu sebelum keberangkatan sudah melakukan web check in supaya gk repot ngantri di counter check in di bandara. Jadi begitu masuk di BIL langsung masuk ke lantai 2 untuk bayar Airport tax Rp. 100.000,- kemudian mengantri di Imigrasi Indonesia. Pesawat berangkat 12.15 tiba di LCCT jam 15.30

nah, dari sinilah petualangan dimulai. sambil tetap membaca petunjuk arah setiba di LCCT, langsung menuju ke arah imigrasi Malaysia, kemudian keluar dan membeli tiket kereta KLIA transit menuju KL sentral seharga MYR 12,5 (sudah termasuk shuttle bus dari LCCT menuju stasiun kereta Salak Tinggi). Saya ikut mengantri bersama beberapa warga Malaysia yang baru pulang melancong bersama teman mereka seorang warga Indonesia, ternyata orang Indonesia dan orang-orang Malaysia itu pegawai Public Bank Berhad yang gedung nya tepat di sebrang Petronas Twin Tower tempat utama yang ingin saya kunjungi, kebetulan banget kan :yes:, ada tuh satu orang dari mereka yang senyum nya manis and handsome pula hahahaha 😆 Shuttle bus nya kami tunggu di seberang terminal kedatangan domestik LCCT , jadi jalurnya LCCT – Salak Tinggi – Putrajaya & Cyberjaya – Bandar Tasik Selatan – KL Sentral

setiba di KL sentral, mondar mandir sambil liatin petunjuk, akhirnya tanya ke bagian informasi di mana LRT yang menuju KLCC, dan diberitahu dengan ramah, beli tiket menggunakan vending mesin layar sentuh milik Rapid KL, sambil ngeliatin orang-orang cara pakai nya 😆 ternyata mudah!!! Dari KL Sentral ke LCCT harganya MYR 1,60 single trip. Saya sempat salah ambil jalur, harusnya line yang menuju Gombak, malah masuk ke line yang menuju Kelana Jaya, tapi untung belum masuk ke keretanya jadi, balik ke line yang seharusnya, harus di ingat di dalam kereta tidak boleh makan minum apalagi buang sampah, didenda MYR 500 :up: untung sempat baca tempelan itu di dalam LRT, jadinya gk jadi makan apa-apa selama perjalanan

setelah sampai di stasiun KLCC, muter-muter cari jalan keluar, karena banyak pilihan nemu papan petunjuk yang mengarah ke Jalan Ampang, akhirnya keluar lewat situ dan tadaaaaaaa kelihatan lah Petronas Twin Tower di sebrang jalan, horeeeeeeeee bahagianya begitu sampai ke tempat tujuan, tepat jam 18.00, seharusnya perjalanan dari LCCT ke KLCC dengan fast train dan LRT memakan waktu hanya 1,5 jam, tapi karena baru pertama kali jadinya banyak liatin papan petunjuk dan banyak bingung nya, sempat tersesat pula 😆 jadi memakan waktu 3 jam untuk saya sampai di Petronas Twin Tower 😆 😆 😆

masuk ke Suria KLCC, sambil beli oleh-oleh dengan uang saku secukupnya, lumayan lah dapat sepatu Vincci, foto-foto petronas twin tower di malam hari memang bagus banget, setelah itu balik ke LCCT dengan jalur yang sama, dari KLCC – KL Sentral dengan LRT, lalu dari KL Sentral – LCCT dengan Fast train KLIA transit. Setiba di LCCT, saya jalan kaki dari pinggiran tempat parkir mobil sampai menuju Tune Hotel KLIA-LCCT tepat jam 21.30, kebetulan ada orang Indonesia dari Surabaya yang akan menginap di hotel yang sama, jadinya jalan barengan ke hotel :yes:

keesokan hari nya waktunya pulang ke Lombok. Jalan kaki dari Tune Hotel ke terminal keberangkatan internasional LCCT, boarding pass hasil web check in di sahkan dulu di documen check counter, barulah menuju imigrasi dan ruang tunggu gate T6 LCCT. Pesawat Air Asia berangkat ke Lombok jam 08.35 setelah berada di udara kurang lebih 10 menit, ternyata pesawatnya kembali lagi ke LCCT karena ada masalah teknis 😦 kami menunggu pesawat pengganti dan berangkat pukul 11.44 tiba di BIL pada pukul 15.30, agak lama landing nya karena tertutup awan mendung

benar-benar pengalaman yang mengasyikkan, suatu saat saya akan jalan-jalan lagi ke sana :happy: gambar di bawah adalah saat-saat ketibaan di Malaysia, gambar selengkapnya di Menggembel ke Kuala Lumpur …. ambil istilah menggembel dari temanku Hadame yang biasa melancong ke negara-negara Asean dan keliling Indonesia :yes:

Advertisements

Blue Rain

by : moumoon

moumoon - 15 doors

Kanji

くもりぞらは いつもの パールグレイ
西の太陽が 泣いている
いなくなる その時も
おなじような 色でしょうか

まだ 旅の途中 やまぬ嵐 果てなき道
生きて 心のこの声に従うだけ
声を 燃やしながら 歌い続け 踊り続ける
わたしに 降りそそぐ
Blue Rain, Blue Rain

愛とひきかえに 手に入れた 翼がただ痛むのです
何がほしい? 全てがいい その犠牲は 誰も知らぬ

どうして 求めるとき 罪の心 さいなまれる
それは 失う痛みを 忘れぬため
ほら 掌には 尊いもの まだ残っている
そして 光が射す
Blue Rain, True pain

風 切り裂くように 鋭くあれ 自由になれ
生きて 心のこの声に従うだけ
そう 水に浮かぶように 穏やかであれ 答えはここに
わたしに 降りそそぐ
Blue Rain, Blue Rain

Dancing in the rain I hear the lullaby
Rain drops falling on my tears
Walking in the rain Just wanna say good bye
Rain Drops falling on my tears
I hear the lullaby Pouring the blue rain

Romanji

Kumorizora wa itsumono Pearl Grey
Nishi no taiyou ga naiteiru
Inakunaru sono toki mo
Onaji youna iro de shouka

Mada tabi no tochuu yamanu arashi hatenaki michi
Ikite kokoro no kono koe ni shitagau dake
Koe o moyashinagara utaitsudzuke odoritsudzukeru
Watashi ni orisosogu
Blue Rain, Blue Rain

Ai to hiki kaeni te ni ireta
Tsubasa ga tada itamu no desu
Nani ga hoshii? subete ga ii
Sono gisei wa daremo shiranu

Doushite motomeru toki tsumi no kokoro sainamareru
Sore wa ushinau itami o wasurenu tame
Hora tenohira ni wa toutoi mono mada nokotte iru
Soshite hikari ga sasu
Blue Rain, True Pain

[Instrumental break]

Kazakirisaku youni suru doku are jiyuu ni nare
Ikite kokoro no kono koe ni shitagau dake
Sou mizu ni ukabu youni odayaka de are kotae wa koko ni
Watashi ni furisosogu
Blue Rain, Blue Rain

(Dancing in the rain, I hear the lullaby,
Raindrops falling on my tears…)

(Walking in the rain, just wanna say good bye,
Raindrops falling on my tears…)

(I hear the lullaby, pouring the blue rain…)

English

The cloudy sky is its usual pearl grey;
The sun in the west is crying —
Is it still the same color
When it’s gone?

I’m still on a journey, an endless road through a ceaseless storm.
I just spend my life following the voice in my heart;
I keep singing, keep dancing, my voice burning…
Pours down on me.
Blue rain, blue rain,

The wings I got in place of my love
Just hurt —
What do we want? We want everything.
Nobody knows the price you pay for it.

Why does guilt nag at us when we long for something?
So that we don’t forget the pain of losing something.
See, I still have some precious things left in my closed hand —
And light shines;
Blue rain, true pain.

[Instrumental break]

May it be sharp enough to slice through the wind, be free.
I just spend my life following the voice in my heart;
Yeah, may your life be as peaceful as floating on water, the answer is here…
Pours down on me. Blue rain, blue rain,

(Dancing in the rain, I hear the lullaby,
Raindrops falling on my tears…)

(Walking in the rain, just wanna say good bye,
Raindrops falling on my tears…)

(I hear the lullaby, pouring the blue rain…)

Peach

「はしきやし 吾家(わぎえ)の毛桃 本を繁み 花のみ開きて 成らざらめやも」

“The peach trees at my house are this luxurient, so for there to be flowers only, and no fruit would be too bad”

“Persik di rumah ku begitu rimbun, ia berbunga tapi tidak berbuah”

sajak tentang pengharapan cinta yang berbalas

The Extra Kobayashi vol. 7 chapter 34

picture credit to popouhox @ tumblr

mengejar SIM keliling

Continue reading